| PASERKAB, 30-03-2009 00:00:00 WITA
Tanggal 29 Desember 2004, wilayah Muara Samu resmi menjadi kecamatan termuda dari 10 kecamatan di Kabupaten Paser. Sembilan bulan dari sekarang, kecamatan pemekaran dari Kecamatan Batu Sopang ini akan berusia lima tahun. Namun, banyak warga yang mengaku belum puas dengan hasil pembangunan.
Hujan gerimis mengguyur Bumi Daya Taka dari pagi hingga siang. Namun hingga pukul 17.00, Rabu (25/3), langit masih mendung, udara pun terasa lembab. Jalan Provinsi yang biasanya sepi, sore itu diramaikan sejumlah mobil berplat (nomor polisi) merah melintas dengan kecepatan tinggi, seperti ada yang mereka kejar.
Sampai Kilometer 21, tepatnya di Desa Keluang Lolo, Kecamatan Kuaro, mobil-mobil itu berbelok ke kiri, ruas jalan yang menuju Kecamatan Muara Samu. Jalan yang tadinya mulus beraspal, berganti dengan jalan pengerasan. Kondisinya relatif lebih baik, meskipun masih ada beberapa titik yang perlu diwaspadai, terutama bagi pengendara sepeda motor.
Batu-batu kerikil yang diratakan di atas jalan pengerasan sudah ada yang mulai terkelupas, memperlihatkan tanah merah yang licin tersiram hujan. Tergelincir sedikit saja, si pengendara akan jatuh dan tersungkur mencium jalan. Selain itu, karakter permukaan tanah berbukit-bukit, sehingga permukaan jalan yang naik, turun, dan belokan tajam, harus dilewati.
Itulah sedikit pengelaman Tribun, saat ingin menyaksikan pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-34 Tingkat Kabupaten Paser di Kecamatan Muara Samu. Ironisnya, ketika pengalaman ini kembali diceritakan, beberapa warga di Desa Muara Samu malah mengaku senang.
Seperti diungkapkan Pandi, Warga RT 1 Desa Muara Samu. "Saya senang karena ada orang kota yang bisa merasakan penderitaan kami selama ini. Pengalaman sampeyan (Tribun-red) sekarang ini masih mending, saya malah sempat bermalam dua kali di hutan, gara-gara jalan rusak," kata Pandi.
Artinya, lanjut Pandi, seandainya Tribun melakukan perjalanan dua bulan sebelum pembukaan MTQ, Tribun akan mengalami nasib yang sama. Meski bawa ponsel tapi kalau tidak ada sinyal, juga percuma. "Jalan berlubang dan berlumpur, setinggi pinggang, bagaimana bisa lewat, terpaksa saya bermalam di hutan," kenangnya.
Disaat warga Kecamatan Muara Samu terisolasi, Pemkab Paser di bawah kepemimpinan Bupati Ridwan Suwudi memprioritaskan pembangunan jalan dua jalur di Kecamatan Muara Komam, Long Kali, dan Tanah Grogot. Pembangunan jalan yang menjadi kewenangan Pemprov Kaltim, tetapi dibiayai dari APBD Paser.
"Jalan kami juga berstatus jalan provinsi, tapi bukan kah kami yang lebih membutuhkan perbaikkan jalan, ketimbang melebarkan jalan yang sudah bagus menjadi dua jalur. Kalau kemarin, jangan coba-coba lewat jalan itu, mobil double gardan saja amblas, apalagi mobil biasa," tambah Sopwan, warga Desa Muara Samu.
Hanya karena MTQ dilaksanakan di Muara Samu, Pemkab Paser memperbaiki jalan poros Lolo- Muara Samu, selesai MTQ Muara Samu dilupakan lagi. Itu jalan menuju ibukota kecamatan, apalagi jalan yang menuju desa-desa terpencil Kecamatan Muara Samu, seperti Desa Rantau Atas, Tanjung Pinang, dan Muara Ande.
"Sudah sering kami usulkan, bahkan sudah disuarakan Dewan lewat media cetak, tidak ada hasilnya. Baru MTQ inilah jalan kami diperbaiki, tapi nanti setelah dua minggu MTQ selesai, sampeyan coba balik lagi, pasti jalannya hancur lagi. Ke Muara Ande parah lagi, jarak yang cuma 15 kilometer dari Tanjung Pinang, harus ditempuh berjam-jam," keluhnya.(TribunKaltim,29032009)
Dikirim oleh : (administrator)
|