| PASERKAB, 17-04-2009 00:00:00 WITA
Sejak awal Maret, stok darah di Unit Transfusi Darah (UTD) Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Paser, kosong. Meski pun ada, itupun cuma satu atau dua kantong. Setelah disimpan beberapa saat di lemari penyimpanan, stok darah yang tersisa itu sudah diminta oleh pasien.
Kondisi seperti ini menurut Kepala Seksi Pencarian dan Pelestarian Donor Darah Sukarela (P2D2S) UTD PMI Paser Redarwin Sihombing, Kamis (16/4), tidak masalah sepanjang UTD PMI masih menyimpan persediaan darah. Tapi jika persediaan darah tidak ada lagi, ia bisa meminta keluarga dekat pasien untuk mendonorkan darahnya.
"Sering pasien minta dua kantong, kita kasih satu, kenapa? Karena yang tersisa memang satu kantong, sisanya kita minta keluarga pasien mencari sukarelawan yang mau mendonorkan darahnya. Semua kita layani, tidak perduli apakah mereka bersedia mengganti biaya pengolahan darah dengan uang sendiri atau gratis dengan membawa Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) atau JPS," kata Redarwin.
Cuma masalahnya, pasien sering kali diuji kesabarannya, sudah tidak mampu dan dalam kondisi kesusahan, darah yang dibutuhkan tidak mencukupi lagi. Yang menyedihkan lagi, kalau pasien yang membutuhkan darah berasal dari Desa Tanjung Aru, Kecamatan Tanjung Harapan. Apakah pasien harus meminta keluarga dekatnya datang ke Tanah Grogot cuma untuk mendonorkan darahnya.
"Kalau sudah sampai di sini, kemana mereka mencari keluarga atau kenalan terdekat mereka untuk mendapat sumbangan darah, kalau tidak dari sumbangan sukarelawan yang menyumbangkan darahnya ke UTD PMI. Sayangnya, ketika mereka membutuhkan pertolongan kita, darah yang tersedia tidak muncukupi atau kebetulan kosong," keluhnya.
Oleh karena itu, ia mengajak seluruh pihak membuka hati untuk peduli kepada sesama, setidaknya satu persoalan mereka terpecahkan dengan mendapatkan darah yang dibutuhkan. Tidak masalah, apakah mereka menebus biaya pengolahan atau menebusnya dengan SKTM, yang penting darah yang mereka harapkan tersedia.
"Stok saat ini, darah AB dan darah B masing-masing tinggal 2 kantong, golongan darah lainnya kosong. Bagaimana lagi, ke PT Buma dan PT Pama belum waktunya, sementara sumbangan darah dari Gabungan Pemuda Asli Kalimantan (Gepak), PT Interex, GPIB, sudah habis. Makanya kita meminta dukungan seluruh pihak untuk membantu sesama," ungkapnya.
Dana Rp 130.000/kantong sebagai biaya pengolahan darah tidak sebanding dengan kenaikan harga alat kesehatan (Alkes). Seperti, uji Hepatitis per itemnya Rp 24.000, belum uji saring penyakit yang lain dan harga kantong darahnya. Kebetulan UTD PMI tahun lalu dapat bantuan alkes dari PT Kideco Jaya Agung (PT KJA), tapi 480 kantong darah senilai Rp 10.080.000 hanya bertahan 2,5 bulan.(TribunKaltim,16042009)
Dikirim oleh : (administrator)
|