 |
| |
PUBLIKASI |
| Halaman ini dibaca : 2 Kali |
|
|
 | Anak Indonesia Rabun Membaca, Pincang Mengarang |
| PASERKAB, 05-08-2009 00:00:00 WITA
Kondisi minat baca masyarakat sebenarnya bisa dikenali dan dideteksi sejak masih anak-anak, sehingga bisa dikembangkan secara lebih tepat. Salah satu kiat untuk meningkatkan minat baca adalah melalui pemberdayaan perpustakaan. Namun sayang, kegemaran membaca pada anak-anak masih tergolong rendah, sehingga terbawa sampai mereka masuk ke sekolah dan jenjang pendidikan selanjutnya.
Saat menjadi pembicara pada acara Penyuluhan Minat Baca yang dilaksanakan oleh Kantor Perpustakaan dan Arsip di gedung Awa Mangkuruku, Senin (3/8) lalu, Dosen FKIP Universitas Mulawarman Rusydi Ahmad mengatakan, ciri-ciri kebanyakan anak Indonesia adalah rabun membaca dan pincang mengarang, namun matanya nyalang saat menonton televisi.
"Ini dikatakan oleh Taufiq Ismail, penyair dari Universitas Negeri Jogjakarta tahun 2003," katanya. Dia melanjutkan bahwa di Indoensia belum ada tahapan budaya membaca, namun baru pada tahap menumbuhkan minat baca.
Dia kemudian menunjukkan data yang diperolah dari National Labour Survey, yaitu adanya peningkatan yang signifikan pada kebiasaan masyarakat menonton televisi, yang dibarengi dengan penurunan secara drastis kebiasaan membaca buku. Hal yang sama pada kebiasaan mendengarkan radio.
"Sejumlah indikator mengikuti data ini. Di antaranya di Indonesia, membaca buku belum prioritas karena kalah dengan budaya lisan dan populernya televisi. Masyarakat rela mengeluarkan dana besar untuk hal-hal yang sifatnya konsumtif, tapi enggan menyediakan dana untuk membeli buku," kata Rusydi.
"Jumlah dan jenis buku yang diterbitkan masih sangat terbatas, di samping harganya yang mahal. Selain itu masyarakat lebih suka membaca bacaan ringan seperti koran, majalah dan buku cerita dari pada bacaan berat seperti buku teks dan ensiklopedia. Yang terakhir pembangunan perpustakaan dan taman bacaan belum menjadi prioritas," ujarnya.
Indikator lain adalah kurangnya dukungan dari lembaga pendidikan. "Membaca buku untuk menambah pengetahuan dan pengembangan diri belum menjadi tuntutan kurikulum sekolah dan perguruan tinggi. Soal ujian soal ujian sering berbentuk pilihan ganda atau jawaban singkat. Bahan ujian berasal dari catatan dan diktat, sehingga siswa dan mahasiswa tidak tertarik untuk membacanya," paparnya.
"Dari pihak pengajar, terkadang guru dan dosen kurang memanfaatkan perpustakaan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar. Siswa dan mahasiswa juga tidak dilatih teknik-teknik membaca," kata alumnus UGM ini.(KaltimPost,05082009)
Dikirim oleh : (administrator)
|
| BERITA LAINNYA : 11-02-2012 - | Badan Urusan Logistik (Bulog) menggunakan data PPLS dan BPS sebagai acuan menyalurkanRaskin (Beras Miskin) 2012. Sementara untuk teknis penyalurannya, bulog tetap menggunakan...',300)" onMouseOut="toolTip()">Raskin Menumpuk di Gudang |
11-02-2012 - | Jajaran Kepolisian Republik Indonesia (Polri) terus berbenah untuk bisa menjaga stabilitas keamanan masyarakat. Kapolres Paser AKBP Ismahjuddin Sik, Msi di depan ratusan...',300)" onMouseOut="toolTip()">Polri Harus Anti Kekerasan |
11-02-2012 - | Bagi warga Tana Paser yang ingin ikut Jalan Sehat Ceria (JSC) Kaltim Post, Minggu (19/2) nanti, sepertinya harus cepat-cepat jika tak ingin kehabisan tiket. Pasalnya,...',300)" onMouseOut="toolTip()">Aksi Borong Tiket Makin Gencar |
11-02-2012 - | PT Asuransi Kesehatan (Askes) baru-baru ini melaksanakan sosialisasi penyegaran kembali pelayanan kesehatan, antara lain pelayanan rawat jalan,rawat inap, dan rawat...',300)" onMouseOut="toolTip()">Askes Gelar Sosialisasi Pelayanan Kesehatan |
11-02-2012 - | Sungguh beruntung para kepala sekolah di Kecamatan Kuaro dan Batu Sopang. Mereka untuk keduakalinya mendapat kesempatan mengikuti pelatihan manajemen sekolah yang digelar...',300)" onMouseOut="toolTip()">31 Kepsek Belajar Sistem Manajemen Sekolah |
|
|
|
 |
Berita Terbaru
Berita Populer
Tamu Online : 6
|