| PASERKAB, 26-02-2008 00:00:00 WITA
Di saat bisnis transportasi angkutan kota (Angkot) sedang lesu, Pemkab Paser melalui Perusahaan Daerah (Perusda) Daya Prima berencana menambah tujuh unit angkot lagi. Akibatnya, rencana ini spontan ditolak oleh sejumlah sopir angkot, sebab penambahan itu sama artinya "membunuh" anak istri mereka.
Saat berada di Terminal Tepian Batang, Senin (25/2), Warto, seorang pria setengah baya dari jarak yang agak jauh langsung menyapa, mau kemana Pak? Belum dijawab pertanyaan pertama, ia kembali mengajukan pertanyaan kedua...bawa apa?
Setelah dijelaskan, Warto pun mengaku bahwa ia mengira Tribun akan meminta jasanya untuk mengatar barang. Setelah itu baru lah ia menanggapi rencana penambahan tujuh unit angkot. Menurutnya, mulai dari pagi sampai pukul 14.00, ia baru satu kali mendapat giliran membawa penumpang.
Hal senada juga diungkapkan Syarifuddin dan sopir angkot lainnya. Saat ini, para sopir angkot lebih banyak menganggur dari pada kerja, apalagi jumlah armada angkot ditambah sebanyak tujuh unit. "Sampai saat ini ada tujuh atau enam angkot yang belum mendapat giliran seperti Pak Warto, apalagi kalau angkotnya ditambah, semua akan hancur," keluhnya.
Dijelaskan, saat ini jumlah angkot ada 18 unit, sedangkan penumpang sedikit. Agar setiap sopir angkot mendapatkan kesempatan yang sama, para sopir angkot antre untuk mendapatkan penumpang. Artinya, jika angkot A sudah penuh dengan penumpang, maka giliran kedua adalah angkot B, begitu seterusnya.
"Setiap sopir paling banyak mendapatkan satu kali kesempatan, bahkan sering pula pulang dengan tangan hampa. Seperti pada hari Sabtu (23/2) lalu, saya sama sekali tidak menyetorkan penghasilan saya kepada pemilik angkot. Mengapa? Karena memang tidak ada penumpang, tapi hari ini saya dapat delapan penumpang," tambah Warto.
Tarif untuk satu orang penumpang, lanjut Warto, sebesar Rp 3.000. Dengan begitu ia baru mendapatkan Rp 24.000, itupun belum dikurangi ongkos Bahan Bakar Minyak (BBM) dan setoran kepada pemilik angkot. Jadi, dalam sehari belum tentu sopir angkot mendapatkan Rp 10.000.
"Kita mendapat 10 persen dari pendapatan. Jadi, apabila hari ini mendapat Rp 50.0000, maka hanya mendapat Rp 5.000. Di sini kita juga tidak bisa keliling mencari penumpang, sebab penumpangnya memang tidak ada, kebanyakan menggunakan sepeda motor pribadi," ungkapnya. (aas)
Miswan: Membunuh Pengusaha Angkot
Direktur Perusahaan Daerah (Perusda) Daya Prima Kabupaten Paser Kadir Thahan SE pernah mengungkapkan rencana pengadaan tujuh unit angkot dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2008, sedangkan dana yang dialokasikan sebesar Rp 750 juta.
Terkait dengan rencana itu, anggota Komisi I DPRD Paser Miswan Thahadi mengaku sangat terkejut. Menurutnya, secara kelembagaan perusda adalah mitra Komisi I, sehingga ia melihat ada tiga indikasi kesalahan apabila rencana itu tetap diteruskan.
"Pertama tanpa studi kelayakan, kedua 18 angkot yang sudah ada saja hidupnya sudah pas-pasan, bagaimana bisa menambah tujuh unit angkot lagi? Ini berarti proyek dengan niat untuk rugi. Yang ketiga, menghadirkan tujuh angkot di tengah lesunya bisnis angkot sama artinya "membunuh" para pengusaha angkot yang ada, berikut para sopir dan keluarganya, ini kan jahat sekali," kata Miswan.
Selain itu, lanjut Miswan, dana yang dipakai untuk pengadaan angkot itu adalah dana APBD, yang dianggarkan ke perusda untuk dimasukkan dalam penyertaan modal usaha tertentu, dalam hal ini sebagai penunjang operasional Asphalt Mixing Plant (AMP), bukan untuk pengadaan angkot.(Tribun Kaltim,26022008)
Dikirim oleh : (administrator)
|