| PASERKAB, 31-03-2008 00:00:00 WITA
Energi alternatif biogas menurut Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Paser Ir H Asmuni Samad Msi, memang bukan barang baru. Tetapi bagi sebagian masyarakat Paser mungkin belum banyak yang mengetahui.
Oleh karena itu, pengembangan energi biogas kepada masyarakat Paser pada tahun ini lebih bersifat pada perkenalan, sehingga jumlah digester (tabung/tempat fermentasi kotoran sapi menjadi energi biogas) yang akan dibangun juga relatif sedikit.
"Untuk proyek percontohan, makanya yang dibangun cuma empat unit, meski begitu masing- masing digester memiliki kapasitas yang lumayan besar, yakni dua kubik kotoran sapi," kata Asmuni, Minggu (30/3).
Karena berkapasitas besar, lanjut Asmuni, energi yang akan dihasilkan pun lebih banyak, meski digunakan untuk memasak seharian. "Asalkan bahan bakunya (kotoran sapi, red) cukup, digester tidak akan pernah putus memproduksi energi biogas," ungkapnya.
Dijelaskan, pengembangan energi biogas sudah diterapkan oleh Sarwono, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di Desa Suliliran Baru, Kecamatan Pasir Belengkong mulai 2006. Sejak saat itu, dia tidak lagi membeli minyak tanah untuk memasak, bahkan dia juga menggunakan listrik dari energi biogas.
Hebatnya lagi, tambah Asmuni, limbah kotoran sapi hasil buangan digester bukan cuma ramah lingkungan karena tidak berbau lagi, tetapi juga bisa langsung disiramkan atau ditaburkan ke tanah sebagai pupuk tanaman. Karena limbahnya ada yang berbentuk padat dan ada pula yang cair, tapi dua-duanya bisa langsung digunakan sebagai pupuk.
"Nah, digester ini akan dibangun di empat titik, pemohonnya sudah banyak, sehingga terpaksa harus kita seleksi lagi, sebab untuk digester dengan kapasitas dua kubik kotoran sapi ini setiap pemohon paling tidak memiliki lima ekor sapi. Namun, jika ini berhasil, maka kegiatan ini akan menjadi pilot project kedepan," pungkasnya.
Satu Digester Rp 7,5 Juta
KASUBDIN Produksi Dinas Perternakan Kabupaten Paser drh Boy Susanto menambahkan, untuk membuat empat digester berbahan beton dan plat besi menelan biaya sekitar Rp 30 juta, sehingga masing-masing digester bernilai sekitar Rp 7,5 juta.
Bagi masyarakat biasa, lanjut Boy, biaya untuk pembuatan digester ini memang relatif besar, sehingga Dinas Peternakan berupaya untuk menggali informasi teknologi tepat guna agar biaya pembuatan digester ditekan seminimal mungkin.
"Kata Asmuni di daerah lain sudah menerapkan digester dengan biaya relatif lebih murah, yakni Rp 2,5 juta per unit. Jika proyek percontohan ini berhasil, maka beliau berencana akan menghadap bupati untuk mengusulkan proyek digester murah ini secara massal," ungkapnya.(tribunkaltim,31032008)
Dikirim oleh : (administrator)
|