"Kita Jangan Hidup seperti Katak Dalam Tempurung" | |||||||||||
Bupati Paser HM Ridwan Suwidi mengingatkan warganya selalu berfikir dan berbuat demi masa depan daerah. Dia menginginkan adanya pemikiran-pemikiran optimistis untuk melaksanakan pembangunan dalam semua aspek sektoral. Kalau ada kritikan dari masyarakat, hendaknya disampaikan secara proporsional dan melihat persoalan dari berbagai sudut pandang. ADA dua terobosan Pemkab yang dinilai Ridwan menuai paling banyak kritikan bernada miring dari masyarakat, yaitu rencana pembuatan bandar udara dan pembangunan Rumah Sakit Umum (RSU). Namun kritikan yang dilontarkan sebagian masyarakat, baik melalui telepon langsung ke Bupati, maupun dengan memanfaatkan media seperti kolom Kring Bupati di harian ini, adalah akibat kekurangpahaman yang bersangkutan tentang program-program pemerintah dan manfaatnya. Bupati mengharapkan instansi terkait bisa melakukan sosialisasi dan pencerahan kepada masyarakat, sehingga bisa memahami program yang digulirkan adalah semata-mata untuk kemaslahatan masyarakat. Orang nomor satu di Pemkab Paser ini memberikan sejumlah alasan logis mengapa masyarakat memerlukan kedua fasilitas tersebut. "Kita harus memiliki rumah sakit yang representatif untuk kondisi masa depan. Kalau ingin berkembang, harus ada perubahan dan pembaruan. Tidak bisa hanya berpikir untuk ruang lingkup yang kecil. Saya ingin suatu saat masyarakat yang sakit tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi untuk berobat ke daerah lain, cukup berobat di sini dengan biaya murah,"kata Bupati saat memberikan sambutan di Rapat Kerja Forum Ketua RT dan RW di Pendopo baru-baru ini. "Kalau kita amati keadaan Rumah Sakit yang ada sekarang, sangat memprihatinkan. Dokter dan perawat sampai bingung melihat banyaknya pasien yang harus dirawat inap, sementara tempat tidak memadai," tambahnya. Bupati menilai jumlah pasien akan semakin bertambah seiring dengan bertambahnya penduduk, sementara RSU Panglima Sebaya tidak akan mungkin lagi diperbaiki pada kondisi seperti sekarang. Mengenai bandar udara, Bupati memberikan alasan bahwa Paser tidak bisa maju tanpa adanya transportasi yang maju ke dunia luar. "Kita tidak bisa hidup dan berpikir seperti katak dalam tempurung. Banyak sekali investor dari luar negeri yang ingin berinvestasi di daerah kita, namun tentunya mereka harus berhitung masalah efisiensi biaya yang merupakan salah satu standar penentuan ekonomi," ujar bupati.(KaltimPost,300808) Dikirim oleh : (administrator) | |||||||||||
BERITA LAINNYA :
| CARI ARSIP BERITA : |
