| PASERKAB, 07-01-2009 00:00:00 WITA
Kepala Sub Bagian (Kasubag) Humas Sekretariat DPRD Paser Syafrani, Selasa (6/1), terpaksa menghubungi saudara dan teman-teman baiknya yang memiliki golongan darah O untuk menjadi sukarelawan donor darah. Pasalnya, istrinya memerlukan darah itu agar dokter bisa segera memberi pertolongan medis.
Setelah menghubungi sana sini, Syafrani pun akhirnya bisa bernafas lega karena tidak lama kemudian rekan-rekannya berdatangan untuk menyumbangkan darahnya. Meski demikian, Syafrani merasa prihatin dengan kondisi ini, terutama terhadap keluarga pasien yang berasal dari luar Kecamatan Tanah Grogot.
"Memang bagi orang Kelurahan Tanah Grogot, kondisi seperti ini hanya masalah kecil, tinggal minta tolong keluarga, saudara atau teman-teman dekat, persoalan selesai. Tapi bagaimana kalau pasien itu tinggal di Kecamatan Muara Komam, apakah dia harus menelepon keluarga, saudara atau teman-temannya di Komam sana," kata Syafrani.
Terpisah, Kepala Seksi Pencarian dan Pelestarian Donor Darah Sukarela (P2D2S) Unit Transfusi Darah (UTD) Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Paser Redarwin Sihombing mengatakan, stok darah UTD PMI sudah kosong sejak pertengahan Desember 2008.
"Stok darah kosong, semua golongan darah, baik itu A, B, O ataupun AB tidak ada. Memang ada sukarelawan yang menyumbangkan darahnya, tapi yang minta lebih banyak dari yang ngasih. Sejak pertengahan Desember lalu sampai sekarang, bayangkan?," kata Redarwin.
Semula, lanjut Redarwin, ia berharap kegiatan bakti sosial donor darah menyambut HUT ke-37 Korpri di Klinik Korpri, Selasa (2/12) lalu, bisa memenuhi kebutuhan darah masyarakat sampai awal Januari ini. Ternyata sebagian besar anggota Korpri Paser (pegawai-red) tidak tergerak menolong sesamanya, buktinya hanya 32 kantong darah yang berhasil disumbangkan dalam kegiatan tersebut.
Lebih lanjut Redarwin menjelaskan menganai harga satu kantong darah Rp 130.000. Menurutnya, di UTD PMI tidak ada istilah jual beli darah, yang ada hanya lah biaya penggantian penggunaan alat kesehatan. Seperti, kantong darah, tes terhadap empat penyakit dan lainnya. Jadi, meskipun keluarga pasien membawa sukarelawan ke UTD PMI, dia tetap dikenai biaya sebesar itu.
"Begini, keluarga pasien dalam keadaan kesusahan, sehingga mendapatkan darah dengan cepat sudah membantu mereka. Nah, kalau mereka disuruh lagi mencari sukarelawan, apa kita tidak kasihan, sudah kesusahan kita tambah lagi dengan menyuruh mereka berusaha sendiri mencari sukarelawan. Makanya, kita berharap pegawai tergerak untuk menyumbangkan darahnya," harapnya.(TribunKaltim,06012009)
Dikirim oleh : (administrator)
|